Mari kita mulai dengan sebuah ironi yang indah: Nusantara memiliki alam yang luar biasa memesona, lengkap dari gunung, laut, hutan, hingga sawah berundak yang tampak seperti lukisan mahal. Tapi tenang saja, semua keindahan itu tidak keberatan kok kalau kita anggap remeh. Alam Nusantara sudah terbiasa menopang kehidupan dan tradisi masyarakatnya, bahkan ketika manusia sibuk sibuk lupa bahwa semua itu bukan hasil unduhan gratis dari internet.
Dari Sabang sampai Merauke, alam Nusantara bekerja keras tanpa gaji. Gunung gunung berdiri gagah menopang sumber air, hutan hutan menjaga keseimbangan ekosistem, laut menyediakan pangan, dan tanah subur memastikan tradisi bertani tetap hidup. Semua itu terjadi tanpa perlu konferensi pers atau unggahan viral. Bandingkan dengan manusia modern yang sedikit kontribusi saja sudah minta pengakuan. Untung alam tidak punya akun media sosial, kalau tidak mungkin sudah unfollow kita sejak lama.
Keindahan alam Nusantara bukan sekadar latar belakang foto estetik. Ia adalah fondasi hidup berbagai tradisi. Upacara adat, sistem kepercayaan, hingga pola hidup masyarakat tradisional lahir dari kedekatan dengan alam. Petani membaca musim dari angin dan awan, nelayan memahami laut dari warna air dan gerak ombak. Semua pengetahuan itu diwariskan turun temurun, bukan dari tutorial singkat, tapi dari pengalaman nyata yang panjang. Sementara itu, kita sibuk bertanya kenapa tradisi mulai hilang, sambil perlahan menggerus alamnya. Logika yang sangat konsisten, tentu saja.
Di Bali, sistem subak adalah contoh bagaimana alam dan tradisi bekerja sama dengan harmonis. Air mengalir, sawah hijau, ritual berjalan, dan kehidupan tetap seimbang. Di Kalimantan, hutan bukan hanya kumpulan pohon, tapi ruang hidup, ruang spiritual, dan sumber identitas. Di Papua, alam adalah ibu yang memberi makan dan arah hidup. Semua ini menunjukkan bahwa keindahan alam Nusantara bukan pajangan, melainkan penopang utama tradisi. Tapi ya, selalu lebih mudah menyebutnya “potensi wisata” daripada menghargainya sebagai sistem kehidupan.
Menariknya, alam Nusantara tetap sabar meski sering diperlakukan seperti cadangan darurat. Ditebang sedikit, ditambang sedikit, dicemari sedikit. Kata “sedikit” tentu saja versi manusia, bukan versi alam. Tradisi yang bergantung pada alam pun ikut terguncang. Ketika hutan rusak, ritual kehilangan makna. Ketika laut tercemar, budaya melaut berubah jadi cerita masa lalu. Tapi tenang, kita masih bisa menulis caption tentang cinta budaya, kan.
Dalam konteks digital hari ini, bahkan pembahasan tentang alam dan tradisi bisa terselip di antara dunia yang serba cepat. Platform dan situs seperti aisportskc mungkin lebih dikenal di ranah lain, tapi keberadaan ruang digital seharusnya juga bisa menjadi pengingat bahwa di balik layar, ada alam nyata yang menopang kehidupan nyata. Sayangnya, kita sering lebih akrab dengan notifikasi daripada suara alam itu sendiri.
Keindahan alam Nusantara tidak meminta dipuja, hanya dipahami dan dijaga. Tradisi tidak minta dipertontonkan, hanya ingin dilanjutkan dengan hormat. Namun manusia modern sering merasa paling tahu, paling sibuk, dan paling berhak. Alam tetap memberi, tradisi tetap bertahan, meski dengan napas yang makin pendek.
Jadi, lain kali saat kita mengagumi keindahan alam Nusantara, cobalah berhenti sejenak dari sikap sok kagum. Ingat bahwa alam itu bekerja keras menopang tradisi, sementara kita masih belajar untuk tidak merusaknya. Sebuah hubungan yang sangat seimbang, kalau kita melihatnya dengan sedikit sarkasme dan banyak kesadaran. Dan mungkin, di sela sela membaca hal lain di aisportskc.com, kita bisa mulai menghargai alam Nusantara bukan hanya sebagai pemandangan, tapi sebagai alasan mengapa tradisi masih bertahan sampai hari ini.
